Resensi buku : The kite runner - Khalid Hosseini Laporan Pandangan mata : GU vs PSS Sleman 12 Nov 2008
Nov 04

Apalah arti sebuah komunitas tanpa adanya sebuah kegiatan yang riel, dan komunitas blogger Gresik melakukan itu. Yah…walaupun hanya sekedar berwisata melepas kepenatan di hari ahad kemarin, rombongan ini pun menyusuri pantura untuk menuju Wisata Bahari Lamongan (WBL), rekonstruksi dari Wisata Tanjung Kodok tempo dulu. Kelima orang yang mengaku blogger Gresik, Peyek, pi’i, edo, rowlind, dan saya sendiri, dengan pasangannya masing-masing sejak awal berangkat sudah menetapkan tujuan acara kongkow-kongkow kali ini, yaitu selain sebagai ajang rekreasi, perjalanan ini juga dimaksudkan untuk membuat perbandingan perkembangan dunia pariwisata gresik dengan tetangga dekatnya, Lamongan.

Walaupun agak sedikit terganggu akibat keluhan sang ketua, cak peyek yang ngrasa ngga fit kondisinya akibat kerja rodi terlalu keras di di tempat kerja beliau. Namun dengan semangat empat-lima tetap memilih berangkat mendampingi kami. Walaupun akhirnya janji pertempuran dayung pun terpaksa harus dibatalkan. It’s okey, the show must go on.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kita dengan selamat di lokasi wisata. Dengan tiket masuk 47 rb per orang, pintu gerbang lokasi pun berhasil kami lewati dengan aman :roll: . Dan hal pertama yang menarik perhatian kami semua adalah food court. Dengan tatanannya yang bersih dan comfort, cukup untuk menggugah selera kami semua agar bersegera mengisi perut, sebagai persiapan sebelum hunting di lokasi wisata berarea cukup luas ini.

Dengan berbasis wisata bahari, cukup banyak aktivitas dan sarana olah raga air yang dapat kita nikmati disini. Mulai dayung, kano, banana boat, renang, dan voli pantai dan masih banyak yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Kita juga dapat menjumpai miniatur keajaiban dunia semacam Candi Borobudur, Tembok China, Menara Pisa, Kastil Neuschwanstein, Taj Mahal, Golden Gate, dan Mercusuar Macquarie. Hebohnya lagi, pihak pengelola juga mengusung budaya asing untuk disuguhkan kepada pengunjung disini, semacam rodeo ala cowboy di negerinya Barack Obama.

Akhirul kata, acara kali ini ditutup dengan kunjungan ke Maharani goa and zoo, sebuah lokasi tepat di depan WBL yang masih dalam satu induk manajemen. Aneh juga membaca ada kata goa disitu, sebuah perpaduan kata dalam bahasa indonesia dan inggis. Kenapa kok ngga di pake kata cave? hanya tuhan pengelola WBL yang tahu :lol: . Di Maharani, selain beraneka ragam satwa, kita dapat melihat sebuah pemandangan yang eksotik dari sebuah goa, dengan slataktit dan stalakmit, serta bermacam-macam jenis batu-batuan, hasil proses alam bertahun-tahun yang lalu.

Sebagai perbandingan, dengan melihat struktur lokasi, sebenarnya Gresik juga memiliki sebuah obyek wisata yang mirip dengan WBL, yaitu Pantai Delegan yang terletak di daerah sedayu. Tinggal ada ngganya will dari pemda dan masyarakat Gresik untuk dapat mengeksplorasi lebih jauh potensi wisata tersebut. Hingga dapat berguna bagi masyarakat banyak, terutama untuk menggerakkan roda perekonomian di Gresik yang selama ini hanya dikenal sebagai kawasan polusi belaka akibat bejibunnya industri yang tumbuh berkembang di kawasan kota santri ini. Dan tidaklah mengherankan bila anda pernah mendengar slogan berbunyi “Masyarakat Gresik ibarat lalat yang tinggal di onggokan sampah” :( .

Ok….itu dulu report dari aktivitas Blogger Gresik, tunggu kabar dari kami selanjutnya, dan tetap stay tune di sini…. :mrgreen:

WBL Picture Gallery

WBL blogger gresik WBL blogger gresik
WBL blogger gresik WBL blogger gresik

written by agusrest \\ tags: , , , , , , ,

5 Pings to “Nggersik goes to WBL”

  1. Sekali jalan, dua-tiga obyek wisata terlampaui » Agus Rest Says:

    [...] Dah ahh becandanya…. back to the topic, melihat kondisi wisata rohani di dua kota tersebut, rasa-rasanya untuk yang satu ini Gresik masih lebih baik. Namun terlepas dari itu, saya masih berharap pemda Gresik mau melakukan perbaikan di sana-sini, toh itu semua juga demi peningkatan kesejahteraan masyarakat Gresik sendiri. Masa kalah sama Lamongan dengang WBL-nya [...]

  2. Wisata Lokal, Hidup Enggan Mati Tak Mau « My Little Homeland Says:

    [...] saja saya usil, kurang kerjan, bisanya cuman mebanding-bandingkan, dan pergi rame-rame kemarin ke lokasi yang sebelumnya telah saya kunjungi dua kali itu tak segera membuat saya bosan, atau lebih tepatnya [...]

  3. A Man Called Edo « My Little Homeland Says:

    [...] agregator blogger Gresik, forum, dan kegiatan blogger Gresik yang lain, salah satunya adalah acara menyisir jalan utara kota Gresik yang mulai tak ramah [...]

  4. nggersik.com » Blog Archive » A Man Called Edo Says:

    [...] agregator blogger Gresik, forum, dan kegiatan blogger Gresik yang lain, salah satunya adalah acara menyisir jalan utara kota Gresik yang mulai tak ramah [...]

  5. nggersik.com » Blog Archive » Wisata Lokal, Hidup Enggan Mati Tak Mau Says:

    [...] saja saya usil, kurang kerjan, bisanya cuman mebanding-bandingkan, dan pergi rame-rame kemarin ke lokasi yang sebelumnya telah saya kunjungi dua kali itu tak segera membuat saya bosan, atau lebih tepatnya [...]


6 Responses to “Nggersik goes to WBL”

  1. 1. lakonlokal Says:

    wwaaahhh…potoku ga ada rek hiks…hiks…
    yu ahh kapan jalan-jalan lagi?? kalo bisa ntar rekreasinya nyari yang agak ‘merangsang’ adrenalin, biar ga loyo terus hehehe….

  2. 2. John Doro Says:

    I look so BIG and my girl looks so small :D

  3. 3. Jaz Says:

    Halah koncone ra di jak ki….
    Nesu aku….

    Kekeke….

  4. 4. peyek Says:

    Hehehehe…. gambarku mana? =))

  5. 5. uyung Says:

    bloger lamongan diajak kumpul-kumpul rek, pokoknya ditunggu acara pesta bloger regional deh

  6. 6. bahoo Says:

    Protes pek pantai delegan kuwi bukan masuk daerah kec. SIDAYU tapi masuk wilayah klo ga PANCENG ya UJUNG PANGKAH :) . Wah ni namanya OOT masak GRESIK di bandingin ma LAMONGAN lha kmaren malam aja nonton di metrotv 10 besar daerah pro usaha Lamongan dah pringkat 3 lha Gresik masuk 50 besar wae mboh2xan, waduh payah-payah aparat gresik

Leave a Reply